Revolusi Marmut

Gelo Urip punya sepuluh ekor kambing tapi itu belum termasuk berapa bakal bayi yang ada di perut indukan-indukan di sana. Kambing-kambing tersebut diternak di belakang rumahnya, di kandang yang menyerupai gubuk beratapkan daun-daun tebu yang kering. Ia memanjakan betul binatang ternak itu. Dan terlebih lagi, mereka tipe kambing yang ogah menyentuh tanah yang tercemar oleh kotorannya sendiri. Maka Gelo Urip membuatkan geladak-geladak dari batang bambu sebagai alas agar mereka nyaman, dan ia beri sekat-sekat pula. Tiap sekat diisi satu ekor supaya rukun tak saling seruduk.

Lanjutkan membaca “Revolusi Marmut”

Fella

Fella sedang menonton TV ketika dari luar seseorang menggedor-nggedor pintunya dengan batu. Fella bangkit dengan geram.

FELLA
Siapa?!
(pintu digedor lagi, Fella melirik dari lubang pintu)
Brengsek!

Fella berputar-putar panik. Pintu didobrak. Orang itu dikenali Fella sebagai Badak, mertuanya sendiri. Ia masuk, dengan menyeret satu kakinya.

BADAK
Fella! Sembunyi ke mana kau, Fella?

Badak duduk di sofa, meletakkan batunya di sampingnya, memegang remot TV dan mengganti-ngganti chanel.

BADAK
Fella, kau tahu kau tidak bisa sembunyi dariku, ‘kan? Hidungku ini hidung anjing, Fella.

Pelan-pelan Fella ke kamar untuk mengambil shotgun.

BADAK
Cukup petak umpetnya, Fella sayang. Keluar kamu anak manis.

Badak berdiri, mengangkat tangan ketika Fella tiba-tiba menodongkan shotgun ke kepalanya.

FELLA
Apa maumu, Brengsek!
(melihat remot di tangan Badak)
Berikan remot itu!
(menarik pelatuk shotgun)
Kalau tidak … Kau tanggung akibatnya.

Badak mengulurkan remot itu. Fella mematikan TV.

BADAK
Kau mau remot ini? Tapi aku mau isi selangkanganmu, Fella cintaku.
(memainkan bibir, membuat gimik mesum)
Shhhs!

FELLA
Kurang ajar! Manusia terkutuk kamu!
(menutup pintu, mengganjalnya dengan batu yang dibawa Badak tadi)
Pergi kau ke neraka!

Baper oleh raut muka Badak, Fella membenamkan peluru ke kepala lelaki itu.

The Florida Project Review

MOONEE THE LITTLE GIRL, she is just six years old, grew up in a purple Magic Castle motel in Orlando, Florida, raised by Halley, a tattooed young mom. They remain the same fate. Halley had to work so hard, from applying for work to being a restaurant waiter, selling perfume in the parking lot of the Disney World hotel, to even becoming a prostitute. All it was to pay room bills and make Moonee happy.

Lanjutkan membaca “The Florida Project Review”

Pipa

KETIKA aku kelas tujuh, mereka mendatangkan psikolog ke sekolah dan kami diminta mengikuti sejumlah tes. Satu per satu ia menunjukkan padaku kartu-kartu kecil, dan menanyaiku apa yang keliru dari gambar-gambar tersebut. Bagiku semua itu biasa-biasa saja, tetapi ia memaksaku dan kembali menunjukkan gambar tersebut—sebuah gambar anak kecil. “Apa yang salah dengan gambar ini?” tanyanya dengan suara yang lelah. Kubilang kepadanya bahwa gambar itu terlihat biasa saja. Lalu ia menjadi berang dan berkata, “Tidakkah kaulihat bocah di gambar ini tidak punya telinga?” Ketika kulihat lagi gambar itu dengan saksama, ya, ia memang tak punya telinga. Tapi gambar tersebut tetap terlihat biasa saja. Si psikolog kemudian menggolongkanku sebagai “penderita kelainan perseptual berat,” dan oleh sebab itu aku dipindahkan ke sekolah pertukangan. Saat aku diterima di sana, aku tahu bahwa aku alergi debu kayu, maka mereka memindahkanku ke kelas tukang besi. Kukira aku cocok di sini, tetapi aku tidak benar-benar menikmatinya. Terus terang saja, aku tidak benar-benar menikmati apa pun secara spesifik. Setelah lulus sekolah, aku mulai bekerja di pabrik pipa. Bosku ialah seorang insinyur lulusan politeknik paling beken. Seorang lelaki brilian. Jika kau memperlihatkan foto bocah laki-laki tanpa telinga kepadanya, ia bakal mengetahuinya. Selesai bekerja aku tetap tinggal di pabrik. Di sini aku membuat pipa-pipa aneh, yang berlekuk-lekuk seperti ular meringkuk, dan kugelindingkan kelereng melalui ujung lubangnya. Aku mengerti ini terlihat tolol untuk dilakukan, dan aku bahkan tak menikmati ini sama sekali, tetapi aku terus saja melakukannya. Lanjutkan membaca “Pipa”